Ketika Anda berkunjung ke Alun-alun kota Probolinggo pada tanggal 13 Juli 2009 yang lalu, Anda akan dijamah oleh alunan merdu gamelan yang tak jauh dari situ. Anda cukup mengikuti jalan setapak kearah barat laut dan belok mengikuti arah utara, diujung pandangan Andalah bersumber suara gamelan yang “menelusuri” gendang telinga Anda. Panggung yang memenuhi pertigaan jalan itu, dipenuhi oleh gerak lihai pemain Jaran Bodhag, budaya asli Probolinggo.
Sore hari, tepatnya pukul 15.00 WIB. Bapak Sufandi selaku ketua pementasan bagian seni dalam acara SEMIPRO (Seminggu di kota Probolinggo) memberikan sambutan sekaligus arahan mengenai Jaran Bodhag. Dalam sambutannya, beliau menceritakan asal muasal Jaran Bodhag ini. “Dari segi etimologi, Bodhag berasal dari Bahasa Madura yang berarti suatu wadah besar yang diukir menyerupai jaran (kuda),” Tuturnya.
Jaran Bodhag ini berbentuk seperti Kuda Kencak yang sering kita lihat dalam acara mengarak seorang anak yang telah dikhitan, perkawinan, pesta Tingkeban (perayaan atau upacara tujuh bulan kehamilan seseorang) dan acara-acara besar lainnya. Awalnya, Kuda Kencaklah yang menjadi seni asli di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Mangga”ini. Kemudian reinkarnasi dari Kuda Kencak ini menjadi perkembangan seni yang dihasilkan oleh rakyat Probolinggo.
Dari sejarahnya, Jaran Bodhag muncul ketika ada rakyat miskin di Probolinggo yang ingin mengeksistensikan budaya Kuda Kencak. Karena biaya yang tidak memungkinkan, warga itu berinisiatif untuk mentransisi bentuk Kuda Kencak menjadi lebih mudah didapat dan bisa dimiliki oleh siapapun yang menginginkannya, termasuk warga miskin seperti dia. Sehingga lahirlah Jaran Bodhag. Tak ayal, jika masyarakat Probolinggo bebas untuk mengimplementasikan arak-arakan Jaran Bodhag ini.
Jaran Bodhag memiliki kwalitas seni yang khas dan eksotis. Pernak-pernik yang bergelantungan disetiap sisi tubuh replika Kuda Kencak ini menginterplai kita untuk selalu menatap keindahannya, lebih-lebih ukiran yang terpahat di kedua sisi tubuhnya, seakan menghipnotis kita untuk mematuhi setiap gerakan jenaka yang dihasilkan oleh si “kuda”. That is perfect performance…..!!!
Penampilan Jaran Bodhag yang “terbungkus” dalam festifal Semipro, menunjukkan bahwa budaya asli Probolinggo ini masih tetap eksis dipertahankan oleh setiap generasi. Para Janis (pengiring Jaran Bodhag) juga berpesan kepada kita semua untuk tidak melupakan keindahan seni yang dimiliki oleh Probolinggo. Ironis sekali jika masyarakat Probolinggo meninggalkan seninya yang begitu eksekutif ini. Saking menariknya, acara yang berlangsung hanya dua jam itu, telah berberhasil menarik perhatian pengunjung dari luar kota. “Selain mencari pengalaman lebih banyak, saya juga ingin menikmati budaya asli Probolinggo ini,” ucap Anton salah satu pengunjung acara Jaran Bodhag asal Malang.
Harmonisasi juga tidak ketinggalan untuk ditunjukkan kepada para penonton. Hal inilah yang menjadi tujuan utama terselenggaranya Jaran Bodhag. Pesan-pesan yang diberikan oleh para Janis yang dipadu dengan humor, akan menjadikan kita cekikikan. Sungguh ini akan membuat penonton semakin terhibur olehnya. Dengan demikian, tidak sedikit insan yang menyaksikan tingkah jenaka Janis dan Jaran Bodhag.
Tapi sayang, mayoritas yang menonton pertunjukan ini adalah masyarakat yang berusia 30 tahun ke atas dan dari kalangan anak muda-mudi hanya terlihat segelintir saja. “Mungkin minat mereka umtuk menonton seni ini sudah terkikis oleh arus Globalisasi,” ungkap Bapak Sufandi lagi. Semoga saja arus Globalisasi radikal tidak dapat mengikiskan atensi pemuda terhadap budaya asli yang dimilikinya.
yang lebih seru donkzz!
BalasHapus