Se-enggaknya udah kerja keras kaan :)
Yah, ini hasil dari tugas yang udah dimodif sedemikian rupa, yang dilihat tidaklah content bukan? maaf karena tulisan-tulisan dari blog ini seperti sampah saja. Hanya tulisan remaja labil yang tak menemukan jalan hidup.
Lah, mau bikin blog baru saya takut kebingungan mencari bahan tulisan lagi nih. lagi pula, sekian banyak anak apa semuanya blog dengan content macam-macam mau dibaca oleh pengoreksi tugas? Wah, kalau begitu si pengoreksi tugas terlebih rajin dari Mahasiswanya.
Lagi-lagi, ini tulisan nggak jelas bukan? Sampai kapan yah aku terus-terusan jadi orang nggak jelas dengan banyak karya nggak jelas pula???
Woke deeh, wassalam.
Blog Kusam
Alakadarnya, lama-lama memandang blog ini menyebabkan sumpek, bau, ngiler dan ambeyen
Kamis, 30 Mei 2013
Berkat PTI, Blog ini...evolution
Sekian lama blog ini tak terjammah, segalanya berubah. Total gue rubah keadaan blog ini! Kusam, walaupun udah dirubah, tetep aja kusam, karena Blog Asal-asalan udah gue ganti jadi Blog Kusam. Kalo bukan karena tuntutan tugas PTI yang menghendaki gue untuk "setor blog", gue ngga bakalan buka blog ini lagi. Blog yang lahir 4 tahun silam. Blog kedua gue.
Blog pertama, gue buat SMP, dan sekarang udah lupa akun bahkan alamatnya, kasihan ya. Mungkin dia bakalan jadi blog yang durhaka kepada pembuatnya. Gue ngga tau gimana nasibnya dia -blog pertama gue- bahkan, gue rasa SBY juga ngga bakalan ngerti kondisinya gimana, yah secara kan blog gue masih Warga Negara Indonesia broh.
Jangankan Blog pertama gue, blog ini aja nasibnya kalang-kabut, mengerikan. ini udah lumayan dipermak, sampe design sebelum dan sesudah dipermak gue photo, maksudnya sih mau di upload dalam artikel ini, tapi BeBe tempat menyimpan photo itu malah disconnected! Gue jadi ngga bisa ngebayangin efek yang begitu besarnya dari keburukan blog ini. Ngeri mameen.
Buat dosen PTI, mohon maaf kalau blog ini begitu buruk. Jangankan isinya, alamatnya aja udah enek banget kayaknya ngeliat. 120910101069.blogspot.com Itu NIM gue. Gue ganti setelah melihat kealayan yang sangat di masa lampau bahkan hanya sekedar pada html blogspot gue.
Maafkan Hamba-Mu yang alay ini Tuuhaaan!
Waktumu suuudah haabiiiiis!
sekian, billing pada warnet tidak memungkinkan untuk melanjutkan penulisan o'on ini.
Jumat, 26 November 2010
Benarkah Komitmen?
Ada pertanyaan unik pada dialog interaktif yang dilaksanakan pada minggu malam kemarin (24/10) “apakah ada tes seleksi kepatutan untuk menjadi pembina?” juga sebuah usulan menarik yang disuarakan dari salah seorang siswa kelas XI “bagaimana jika Pembina juga mendapatkan point ketika melanggar aturan, dan mendapatkan hukuman ketika mencapai point tertentu?”
Menurut penulis, ungkapan tersebut merupakan bentuk dari kegelisahan siswa karena melihat pemimpin mereka tidak dapat mengayomi dan membina mereka secara intensif. Emosi siswa terbakar ketika salah seorang pemimpin mereka melakukan suatu pelanggaran yang seharusnya tidak dilakukan seorang pemimpin, apalagi ketika Pembina tersebut menyidang seorang siswa yang melakukan pelanggaran. Siswa yang melanggar merasa ‘dihinakan’ ketika disidang oleh pemimpin yang juga sama melanggar, dalam benaknya, mereka tidak pantas dihinakan dengan orang hina.
Ada sebuah istilah rasul, “Fatabqa juhhalah idza ittakhadza an-naasu ruasan juhhalah. Fayuftauna bighoiri ilm. Fa dhalluu wa adhalluu.” Yang artinya “Kebodohan akan tetap, jika manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh, lalu pemimpin tersebut akan memberikan pernyataan yang bodoh, maka akan sesat lagi menyesatkan.”
Bukan maksud hati menganggap Pembina adalah orang yang bodoh, hadits tersebut penulis cantumkan karena begitu besarnya pengaruh pemimpin dalam menata kehidupan. Yang dalam hadits tersebut diterangkan bahwa kebodohan akan tetap jika pemimpinnya bodoh. Maka akan terjadi dholluu wa adhollu (sesat lagi menyesatkan)
Begitu juga kemunafikan, korupsi, ketidak adilan, dan lain sebagainya. Termasuk pelanggar aturan pesantren akan tetap jika pemimpin (Pembina) santrinya juga melanggar.
Pada dialog kemarin juga sempat disindir tentang kurang baiknya komunikasi antara Pembina dengan siswa Unggulan. Bayangkan saja, bentuk interaktif antara Pembina dengan siswa hanya dalam sekelumit hal. Ngatak, Nyidang, Ngajar. Tidak ada basa-basi dalam waktu lenggang, canda-tawa jarang sekali (bahkan tidak pernah) terbentuk antara Pembina dengan siswa. Bahkan dalam suatu kejadian pernah ada seorang siswa yang membaca Koran dan seketika ‘direbut’ oleh Pembina, walau merebut itu dengan senyuman aneh (lebih tepat mungkin sinis) hal itu menyebabkan siswa terkait jengkel.
Sebenarnya dengan berinteraksi dengan siswa, Pembina dapat membenahi reputasinya sebagai pemimpin Asrama Unggulan IPA. Berbicara tentang Image, pemimpin kita dipandang sebagian siswa Unggulan memiliki Image yang buruk, dan sementara ini belum terlihat pembenahan Image buruk tersebut.
Selain berkomunikasi, Pembina juga dapat berubah dengan memiliki rasa malu yang besar! Malu kepada Allah Swt ketika mencontohkan yang tidak baik kepada siswanya, kepada Pengasuh pondok ketika melanggar peraturan pesantren, malu kepada diri sendiri jika gagal membina unggulan dengan baik, dan malu kepada siswa Asrama Unggulan jika celanya terkuak khalayak. Karena Al-haya’u minal iman. (Muhammad Lukmanul Hakim)
Menurut penulis, ungkapan tersebut merupakan bentuk dari kegelisahan siswa karena melihat pemimpin mereka tidak dapat mengayomi dan membina mereka secara intensif. Emosi siswa terbakar ketika salah seorang pemimpin mereka melakukan suatu pelanggaran yang seharusnya tidak dilakukan seorang pemimpin, apalagi ketika Pembina tersebut menyidang seorang siswa yang melakukan pelanggaran. Siswa yang melanggar merasa ‘dihinakan’ ketika disidang oleh pemimpin yang juga sama melanggar, dalam benaknya, mereka tidak pantas dihinakan dengan orang hina.
Ada sebuah istilah rasul, “Fatabqa juhhalah idza ittakhadza an-naasu ruasan juhhalah. Fayuftauna bighoiri ilm. Fa dhalluu wa adhalluu.” Yang artinya “Kebodohan akan tetap, jika manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh, lalu pemimpin tersebut akan memberikan pernyataan yang bodoh, maka akan sesat lagi menyesatkan.”
Bukan maksud hati menganggap Pembina adalah orang yang bodoh, hadits tersebut penulis cantumkan karena begitu besarnya pengaruh pemimpin dalam menata kehidupan. Yang dalam hadits tersebut diterangkan bahwa kebodohan akan tetap jika pemimpinnya bodoh. Maka akan terjadi dholluu wa adhollu (sesat lagi menyesatkan)
Begitu juga kemunafikan, korupsi, ketidak adilan, dan lain sebagainya. Termasuk pelanggar aturan pesantren akan tetap jika pemimpin (Pembina) santrinya juga melanggar.
Pada dialog kemarin juga sempat disindir tentang kurang baiknya komunikasi antara Pembina dengan siswa Unggulan. Bayangkan saja, bentuk interaktif antara Pembina dengan siswa hanya dalam sekelumit hal. Ngatak, Nyidang, Ngajar. Tidak ada basa-basi dalam waktu lenggang, canda-tawa jarang sekali (bahkan tidak pernah) terbentuk antara Pembina dengan siswa. Bahkan dalam suatu kejadian pernah ada seorang siswa yang membaca Koran dan seketika ‘direbut’ oleh Pembina, walau merebut itu dengan senyuman aneh (lebih tepat mungkin sinis) hal itu menyebabkan siswa terkait jengkel.
Sebenarnya dengan berinteraksi dengan siswa, Pembina dapat membenahi reputasinya sebagai pemimpin Asrama Unggulan IPA. Berbicara tentang Image, pemimpin kita dipandang sebagian siswa Unggulan memiliki Image yang buruk, dan sementara ini belum terlihat pembenahan Image buruk tersebut.
Selain berkomunikasi, Pembina juga dapat berubah dengan memiliki rasa malu yang besar! Malu kepada Allah Swt ketika mencontohkan yang tidak baik kepada siswanya, kepada Pengasuh pondok ketika melanggar peraturan pesantren, malu kepada diri sendiri jika gagal membina unggulan dengan baik, dan malu kepada siswa Asrama Unggulan jika celanya terkuak khalayak. Karena Al-haya’u minal iman. (Muhammad Lukmanul Hakim)
Langganan:
Postingan (Atom)