Selasa, 16 Maret 2010

Pemuda Menggenggam Sejahtera

Modis kata-kata seperti itulah yang tertanam di jiwa-jiwa pemuda sekarang ini, seakan konotasi yang disajikan untuk pemuda berupa progresif, intelek dan revolusiner tak sanggup untuk dikecap sehingga tercerna kedalam pemikiran pemuda masa kini yang seharusnya dimiliki. Persyaratan untuk menjadi pemuda sepertinya sudah diganti dengan kalimat pertama diatas, dengan alas an estetika dan kesenian. Mereka mengagungkan hal seperti itu yang hanya membuahkan degradasi moral, penyimpangan social, brutalitas dan mendesorder (mengacaukan) pembangunan bangsa. Dibuktikan dengan adanya berbagai tauran banyak sekolahan, stadion sepak bola yang hanya disebabkan hal sepele seperti permasalahan cewek, kalah dalam pertarungan sepak bola dan berbagai permasalan konyol lannya.
Pemuda sekarang sangat hedon dalam gaya hidupnya (live style). Bahkan ada juga pemuda yang mendestasikan dirinya kepada pemuda berjiwa progresif, intelek dan revcolusioner. Dengan alas an, pemuda yang seperti itu (progresif, intelek, dan revolusioner) dianggapnya sepagai orang yang kuper, katrok, kuno dan nggak bisa mengikuti perkembangan zaman (nggak gaul) Seakan kita (pemuda sekarang) tidak memikirkan perjuangan pemuda pra-kemerdekaan. Bisa dikatakan mereka yang berjuang demi kita malah kita mendurhakainya. Kita tidak pernah membayangkan perih rintihnya masa perjuangan, bahkan kita mendekadensikan Indonesia kembali (yang secara tidak langsung berarti kita menjajah diri kita sendiri) dan mirisnya para pejabat Negara yang menganggap hal ini sebagai hal yang prevalentif. Ditambah semakin membudayanya KKN, makelar kasusu yang bebas beronar, dan pemegang hirarki Negara yang semakin sewenang-wenang.
Kurangnya kesadaran moral ini, lantaran kurangnya pendidikan dalam beragama dan khusnul adab. Bayangkan saja, hampir tidak ada sekolah yang mempraktekkan doktrin agama tentang tata karma, menciptakan kerukunan, berbudi luhur. Mungkin hanya sekedar materi pelajaran berupa akidah akhlak yang mengisi waktu sejam-dua jam. Bahkan banyak guru-guru yang masih mempraktekkan tingkah premanisme di kelasnya yang seharusnya guru menjadi suri tauladan yang baik bagi siswa. Pemuda sebagai agent of change (agen perubahan) seharusnya sejak dini sudah ditanamkan sifat kemanusiaan yang dapat membangun bangsa, bukan dituntun untuk memiliki gaya hidup yang wah. Jangan jadikan kasih sayang sebagai alasan untuk menanamkan live style seperti itu kepada pemuda Indonesia, karena masih banyak rakyat miskin merana meminta segenggam kesejahteraan. Sadarlah wahai pemuda!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yuk koment yuuuk