Gaul Abiez, Metal, ngikutin arus globalisasi terlebih dalam hal teknologi dan modis, hal itulah yang selalu terngiang di otak remaja sekarang yang nantinya bakalan jadi pemuda yang harus mengemban tugas berat buat menyongsong kesejahteraan umat. Nah sekarang permasalahannya, apa bener kita sebagai anak muda harus ngikutin yang kayak gitu tuh?? Terlebih bagi anak yang pada nyantri seharusnya ada sedikit rasa destinatif (antipati) sama hal-hal kayak gitu…
Emang anak pondok kurang layak kalau seandainya ngikutin gaul-gaulnya orang ‘luaran,’ mereka seharusnya punya tatakrama yang lebih baik untuk diterapkan setiap harinya. Tapi sebenarnya, gaul-gaul ala ‘luaran’ itu baik nggak sih? Kalo lu nanya ke orang tua, santri, kiai atau mungkin presiden kebanyakan dari mereka pasti jawabnya “hal itu nggak bener” tapi kalo lu nanya ke orang-orang kapitalis, anak punker, remaja yang pada ngeband kebanyakan dari mereka pasti menjawab “kayak gituan bagus donk, masa kita mau jadi manusia goa terus setiap jamannya?” itulah alasan dari ‘calon pemuda’ khususnya di Indonesia.
Tapi kalo lu nanya ke gua gimana? Kalo gua sih netral-netral aja, artinya semua itu bisa dilakuin dengan alasan-alasan yang positif, bukan ditanggapi secara negatif. Kita semua boleh-boleh aja ngikutin arus globalisasi, boleh banget malah. Emang bener apa kata mereka, masa kita mau jadi manusia goa terus? Ya nggak lah, kita juga harus tau apa yang namanya konser, miss universe, dangdutan atau pesta dansa. Perkembangan teknologi kayak Laptop, Internet, atau apa aja dech…kita harus tahu itu. Tapi inget, ditanggapi secara positif.
Emang, kebanyakan perkembangan arus globalisasi berdampak negatif. Tapi apa kita harus menanggapinya secara negatif juga? Kita nggak bakalan bisa menyikapi hal yang baik kalo belum tau hal yang negatif. Bahkan dalam hadits rasulullah “jika bumi ini diisi oleh orang-orang yang tidak mempunyai dosa sama sekali maka Allah akan memusnahkannya dan menggantinya dengan orang berdosa dan meminta ampun kepada Allah sehingga Allah mengampuninya.” Kurang lebih kayak gitu tuh haditsnya. Itu menandakan bahwa orang yang selalu baik itu terkadang kurang bisa menyikapi perbuatan dosa atau salah yang ada di sekelilingnya, kecuali kalau orang itu sudah tahu seluk-beluk kesalahan itu sebelumnya sehingga bertobat jadi orang baik. Jadi kita bisa khan menanggapi arus globalisasi itu dengan positif?
Ketika menonton konser mungkin kita selalu berdosa didalamnya, melihat aurat-aurat yang bergentayangan mengelilingi pikiran kita, aura musik yang membuat kita lupa untuk dzikrullah, mengingat Allah. Atau mungkin kalau dalam internet kita sering menjumpai situs-situs porno. Tapi kenapa kita mengikuti globalisasi yang negatif? Itu semua bisa kita tanggapi secara positif, sekali-kali mungkin kita pantas untuk melakukan dosa (bukan berarti pastas trus kita berdosa terus lho…) sehingga suatu saat kita harus sadar betapa ruginya mengikuti hal kayak gituan. Kita jangan terlena oleh kesenangan hedonis yang bakal njerumusin kita, kita harus mengalihkan perhatian kita untuk berminat terhadap musik-musik yang berbau semangat nasionalisme, sosial, religi yang penting bisa mengingatkan kita betapa luasnya dunia, menyadarkan bahwa masih banyak orang yang menunggu uluran tangan kita, menyadarkan bahwa kita tuh masih ada kehidupan di akherat. Hal-hal seperti ini perlu kita tanggapi secara serius, jangan sampai kita meremehkanya. Karena bahayanya kalau mengulur-ulur waktu, kesempatan kita untuk bertaubatpun menjadi sempit. Sehingga untuk merasakan kenikmatan yang sesungguhnya (yang diliputi kebaikan) juga jadi sebentar khan?
Kalian masih ragu kalau nggak bisa mengalihkan minat kalian? Keraguan kalian ada karena kesadaran yang belum maksimal, kenikmatan akan hedonisme kalian lebih besar ketimbang kesadaran kalian akan dunia yang luas, kehidupan yang disediakaan Tuhan kepada kita itu untuk mempersiapkan bekal di akhirat nanti. Ada pepatah terkenal “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” itu harus kita lakuin. Yah…kalau lu pada masih seneng-seneng konser yang nggak bermanfaat, itu cuma bikin lu pada lumpuh and goblok. Lu seneng ngedrug cuma bikin lu sakau dan tersiksa, lu masih suka nge-ganja cuma bakalan bikin lu jadi kere dan kriminal karena lu udah ketagihan, lu suka nonton bokep cuma bikin lu digiring ke dunia perzinaan (nau’dzubillah) apa enaknya semua itu kalau cuma bikin kita jadi sampah masyarakat? Malu kaleee…..
Oke, kita sudah bisa mengarahkan diri kita kepada arus globalisasi yang lebih positif dan bisa menanggapi globalisasi negatif dengan cara yang positif. Dengan begitu kita juga bisa donk mengarahkan arus globalisasi yang negatif itu menuju arus global yang positif. Seperti, konser tak bermakna kita alihkan menjadi konser religius dan semacamnya yang lebih menyadarkan kita, situs-situs porno yang masih berkeliaran di dunia maya bisa kita hapuskan dan diganti dengan situs yang lebih bersifat kognitif. Dan pastinya itu semua menantang dan menarik perhatian para remaja yang sedang mentransisi dirinya menjadi manusia yang lebih berguna, tidak membuat jenuh dan sensasional.masih banyak teman-teman disekitar kita yang harus disadarkan betapa mahalnya harga waktu yang diberikan tuhan agar hidup ini jangan di sia-siakan hanya dengan live style yang senang sesaat Khoirunnas anfauhum linnas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
yuk koment yuuuk