Jumat, 26 November 2010

Benarkah Komitmen?

Ada pertanyaan unik pada dialog interaktif yang dilaksanakan pada minggu malam kemarin (24/10) “apakah ada tes seleksi kepatutan untuk menjadi pembina?” juga sebuah usulan menarik yang disuarakan dari salah seorang siswa kelas XI “bagaimana jika Pembina juga mendapatkan point ketika melanggar aturan, dan mendapatkan hukuman ketika mencapai point tertentu?”
Menurut penulis, ungkapan tersebut merupakan bentuk dari kegelisahan siswa karena melihat pemimpin mereka tidak dapat mengayomi dan membina mereka secara intensif. Emosi siswa terbakar ketika salah seorang pemimpin mereka melakukan suatu pelanggaran yang seharusnya tidak dilakukan seorang pemimpin, apalagi ketika Pembina tersebut menyidang seorang siswa yang melakukan pelanggaran. Siswa yang melanggar merasa ‘dihinakan’ ketika disidang oleh pemimpin yang juga sama melanggar, dalam benaknya, mereka tidak pantas dihinakan dengan orang hina.
Ada sebuah istilah rasul, “Fatabqa juhhalah idza ittakhadza an-naasu ruasan juhhalah. Fayuftauna bighoiri ilm. Fa dhalluu wa adhalluu.” Yang artinya “Kebodohan akan tetap, jika manusia mengangkat para pemimpin yang bodoh, lalu pemimpin tersebut akan memberikan pernyataan yang bodoh, maka akan sesat lagi menyesatkan.”

Bukan maksud hati menganggap Pembina adalah orang yang bodoh, hadits tersebut penulis cantumkan karena begitu besarnya pengaruh pemimpin dalam menata kehidupan. Yang dalam hadits tersebut diterangkan bahwa kebodohan akan tetap jika pemimpinnya bodoh. Maka akan terjadi dholluu wa adhollu (sesat lagi menyesatkan)
Begitu juga kemunafikan, korupsi, ketidak adilan, dan lain sebagainya. Termasuk pelanggar aturan pesantren akan tetap jika pemimpin (Pembina) santrinya juga melanggar.
Pada dialog kemarin juga sempat disindir tentang kurang baiknya komunikasi antara Pembina dengan siswa Unggulan. Bayangkan saja, bentuk interaktif antara Pembina dengan siswa hanya dalam sekelumit hal. Ngatak, Nyidang, Ngajar. Tidak ada basa-basi dalam waktu lenggang, canda-tawa jarang sekali (bahkan tidak pernah) terbentuk antara Pembina dengan siswa. Bahkan dalam suatu kejadian pernah ada seorang siswa yang membaca Koran dan seketika ‘direbut’ oleh Pembina, walau merebut itu dengan senyuman aneh (lebih tepat mungkin sinis) hal itu menyebabkan siswa terkait jengkel.
Sebenarnya dengan berinteraksi dengan siswa, Pembina dapat membenahi reputasinya sebagai pemimpin Asrama Unggulan IPA. Berbicara tentang Image, pemimpin kita dipandang sebagian siswa Unggulan memiliki Image yang buruk, dan sementara ini belum terlihat pembenahan Image buruk tersebut.
Selain berkomunikasi, Pembina juga dapat berubah dengan memiliki rasa malu yang besar! Malu kepada Allah Swt ketika mencontohkan yang tidak baik kepada siswanya, kepada Pengasuh pondok ketika melanggar peraturan pesantren, malu kepada diri sendiri jika gagal membina unggulan dengan baik, dan malu kepada siswa Asrama Unggulan jika celanya terkuak khalayak. Karena Al-haya’u minal iman. (Muhammad Lukmanul Hakim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

yuk koment yuuuk